Selasa, 08 Maret 2011

Perencanaan instruksional pada Teacher centered dan learner centered

Mengapa diperlukan perencanaan instruksional ?
Sebelum menjawab pertanyaan diatas maka marilah kita mencari tahu dulu apa itu perencanaan instruksional,
Perencanaan Instruksional adalah : Pengembangan atau penyusunan strategi sistematik dan tertata untuk merencanakan pelajaran.
Lalu apa maksud defenisi diatas ? saat melakukan sesuatu apalagi untuk melakukan sesuatu yang besar jarang sekali akan berjalan dengan baik tanpa perencanaan yang matang, perencanaan dibuat agar segala tujuan yang telah ditetapkan berjalan dengan baik sesuai yang diharapkan.

Dalam hal ini perencanaan yang dimaksud adalah guru perlu menentukan sikap akan seperti apa dan bagaimana dia kana mengajar. Beberapa momen instruksional mungkin berjalan dengan spontan, namun bagaimanapun perncanaan diperlukan agar pengajaran dilaksanakan dengan cermat dan tidak wasting time untuk hal-hal yang tidak terlalu menyangkut pada tujuan pengajaran awal. Selain tiu perencanaan juga berguna untuk meningkatkan rasa percaya diri dalam mengajar dan memasukkan topic-topik penting, serta seperti telah disebutkan untuk memaksimalkan waktu selama mengajar.
Namun, walaupun perencanaan adalah dimensi utama dari pengajaran yang sukses, jangan terlalu banyak menyusun rencana. Susunlah rencana yang rapid an dijalankan, tetapi berlakulah fleksibel; seiring belalunya tahun, bulan, minggu atau hari, sesuaikan rencana dengan perubahan lingkungan atau situasi. Kejadian controversial atau topic penting yang belumanda masukkan rencana mungkin muncul secara tek terduga. Pantau dan ubah rencana anda seiring brlalunya tahun agar sesuai dengan situasi yang terus berubah.

Perencanaan pelajaran Teacher centered dan Learned centered
Mana yang lebih efektif Teacher centered atau Learned centered??

Teacher centered sendiri adalah pembelajaran dikelas yang perencanaan dan instruksi berpusat pada guru. Dalam metode ini seorang pengajar (baik guru maupun dosen) sangatlah berperan dalam memberikan bahan ajar untuk murid-muridnya. Ada tiga alat umum disekolah untuk melaksanakan teacher-centered, yaitu menciptakan sasaran behavioral (perilaku), menganalisis tugas, dan menyusun taksonomi intruksional. Disini diartikan bahwa gurulah yang lebih berperan untuk kelancaran proses belajar mengajar dalam kelas.

Instruksi langsung (direct instruction) adalah pendekatan teacher-centered yang terstruktur yang dicirikan oleh arahan dan kontrol guru, ekspektasi guru yang tinggi atas kemajuan murid, maksimalisasi waktu yang dihabiskan murid untuk tugas-tugas akademik, dan usaha oleh guru untuk meminimalkan pengaruh negatif terhadap murid (Joyce & Weil, 1996). Ada banyak strategi teacher-centered merefleksikan instruksi langsung yakni guru mengorientasikan murid pada materi baru, mengajar, menjelaskan dan mendemonstrasikan, menanyakan dan diskusi, penguasaan pembelajaran, tugas dikelas, dan pekerjaan rumah.

Kekurangan teracher centered ini adalah :
• Instruksi dengan model ini sering menghasilkan pembelajaran yang pasif dan tidak memberi kesempatan yang cukup kepada murid untuk mengkonstruksi pengetahuan dan pemahaman
• Metode ini juga dipandang mengahsilkan kelas yang terlalu kaku dan terstruktur ketat, kurang memerhartikan perkembangan sosioemosional
• lebih menjurus ke pemberian motivasi dari luar ketimbang menumbuhkan motivasi dari dalam.
• terlalu banyak memberikan tugas tertulis, hanya sedikit memberi kesempatan untuk pembellajran dunia nyata
• terlalu sedikit pembelajaran kolaborasi dalam kelompok

Learner-Centered
adalah instruksi dan perencanaan kelas yang menekankan pembelajaran dan pelajar yang aktif dan reflektif. Dalam sebuah studi, persepsi murid terhadap lingkungan pembelajaran yang positif dan hubungan interpersonal dengan guru merupakan faktor paling penting yang memperkuat motivasi dan prestasi murid (McCombs, 2001 ; McCombs & Quiat, 2001)

Dalam prinsip pembelajaran learner-centered muridlah yang dituntut untuk berperan aktif dalam pembelajran dikelas. Guru hanya sebagai fasilitator yang bertugas mengarahkan murid, selebihnya murid yang melakukan pembelajaran sendiri, memahami dan menemukan pengetahuan secara mandiri. Prinsip learner-centered brisi factor kognitif dan meta kognitif (sifat dari proses pembelajaran, tujuan pembelajaran, konstruksi pengetahuan, pemikiran strategis, pemikiran tentang pemikiran dan konteks pembelajaran) mendorong guru untuk membantu murid secara aktif mengkontruksi ppemahaman mereka, menetukan tujuan dan rencana, berpikir mendalam dan kreatif, memantau pembelajaran mereka, memecahkan problem dunia nyat, mengembangkan rasa percaya diri yang positiffaktor emosi dan emotional, motivasi instrinsik untuk belajar, belajar sesuai dengan level perkembangan, bekerja sama secara efektif dengan orang lain (termasuk orang yang berbeda latar belakang), mengevaluasi preferensi mereka, dan memenuhi standar.

kelemahannya adalah pendekatan ini terlalu memerhatikan proses pembelajaran (seperti belajar secara kreatif dan kolaboratif) tetapi tidak cukup memerhatikan kandungan akademiknya (seperti fakta sejarah) (Hirsch, 1996). Selain itu instruksi learner-centered kurang efektif di level pengajaran awal untuk suatu pelajaran karena murid belum punya pengetahuan memadai untuk membuat keputusan tentang apa yang harus mereka pelajari

Nah untuk menjawab efektif atau tidaknya dua pokok bahasan diatas adalah kita harus menyesuaikan dengan situasi dan kondisi pembelajaran Instruksi adakalanya learner-centered akan lebih baik untuk beberapa pelajaran dibandingkan pelajaran lainnya (Feng, 1996) seperti ilmu sosial dan kemanusiaan, instruksi ini dapat bekerja dengan efektif. Namun untuk ilmu matematika dan sains, pendekatan teacher-centered adalah lebih baik. Jadi agar proses pengajaran berjalan dengan baik haruslah disesuaikan dengan kondisi yang ada.

Sumber : Santrock, John W. 2010. PSIKOLOGI PENDIDIKAN, Edisi Kedua, Cetakan Ke-3. Jakarta:Kencana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar